English

A True Harmony of Nature

at Mountain Ijen

Danau hijau toska, pegunungan, kawah, api biru dan mereka si para penambang belerang.

Api Biru Ijen

Setelah satu minggu ngebolang sekitaran Jawa Timur, akhirnya gw sampailah di garis finish - ya at least untuk durasi cuti gw saat itu lah. Adapun alasan gw kenapa milih destinasi ini sebagai pelengkap liburan gw adalah karena letaknya yang di pojok Pulau Jawa, that's it. *nggak penting sumpah.

Kalau lo tanya apasih yang unik dari Indonesia, lo mungkin pernah dengar tentang adanya api biru. Bukan di kompor, tapi seriusan api biru alami. Dan itu bisa lo saksikan di Ijen, langsung dari mata lo sendiri. Api biru disini selalu muncul hampir tiap malam, jadi jangan khawatir keabisan *walaupun sebenarnya gw kurang tau apa api biru nya masih ada atau enggak waktu malam idul fitri atau hari kejepit nasional :|

 

Yang jelas, Ijen itu bukan tentang api biru doang bro, disana lo bisa benar-benar menyaksikan pemandangan super komplit - a true harmony of nature - dimana lo bisa menikmati view dataran tinggi, gunung api, pegunungan, kawah, danau, ditambah gaya hidup / mata pencaharian yang unik dan cuma ada di sini, yaitu penambang belerang.

Penambang Belerang Ijen

Pernah lah ya lo denger kisah atau cerita tentang para penambang belerang itu. Perjuangan mereka demi sesuap nasi benar-benar pantas diberikan predikat cowok roso! Gimana enggak, pagi-pagi buta mereka udah mulai jalan nanjak ke puncak terus turun ke bibir kawah untuk ngedapetin belerang padat. Cuma dibekali masker dan sepatu boots lusuh, mereka daki lagi kawah yang curam itu sambil ngegendong 70-80kg belerang di bahu nya. Setelah itu mereka lanjut turun ke kaki gunung yang jaraknya kurang lebih 2km dari puncak. Mau tau berapa besar uang yang mereka dapat untuk 1 kali trip edan tersebut? Mungkin cuma sekitaran 70-80rb. Damn!

Jumlah duit tersebut benar-benar enggak sebanding dengan resiko dan beban pekerjaan mereka - dan sedihnya - itulah salah satu kegiatan rutin dari mayoritas warga lokal di sekitaran tanah Ijen. Tapi ada baiknya juga bagaimana media mulai mempublikasikan keprihatinan mereka sehingga tangan-tangan dermawan dapat mulai masuk untuk meringankan beban para penambang tersebut. Salah satunya adalah beberapa gerobak yang didonasikan untuk mereka sehingga mereka tidak perlu memanggul belerang tersebut di sepanjang perjalanan turun dari puncak ke kaki gunung. Tapi tetap nggak kebayang buat gue kalau gue harus melakukan pekerjaan tersebut setiap pagi. Peristiwa kaya begini yang bikin gw berpikir bahwa masalah hidup yang gw rasain benar-benar tidak sebanding dengan beban yang para penambang itu harus angkut di setiap paginya.

Para Penambang Belerang

Bicara serius, Ijen adalah tempat dimana gw benar-benar bisa kontemplasi penuh dan menjadi bersyukur atas apa yang gw punya - sembari di kelilingi oleh kebesaran alam yang juga memberikan makna betapa kecilnya manusia. Selalu ada tempat dimana mereka bisa mengingatkan kita tentang betapa tidak berdayanya manusia terhadap alam. Dan ada juga tempat yang menggambarkan betapa megah dan indahnya alam dunia ini jika kita memang mau membuka mata. Well, Ijen memiliki kedua-duanya. 

Get There

Entah itu lo datang dari Surabaya, Jember atau Bali - kota terdekat yang bisa lo tempuh untuk menuju Ijen adalah Banyuwangi. Untuk kasus perjalanan gw, berhubung waktu itu gw sedang melakukan semacam ekspedisi Jawa Timur, jadi begitu gw udah selesai mengunjungi Papuma, Jember, gw langsug cabs naik bis apapun itu yang mengarah ke Banyuwangi atau Bali. Beberapa ada yang menyarankan gw untuk pergi ke Ijen via Bondowoso. Tapi setelah melakukan observasi singkat di Internet, gw menyimpulkan bahwa menuju Ijen via Banyuwangi tetaplah yang termudah dan termurah tentunya jika lo menggunakan moda transportasi umum.

 

Ijen sendiri berlokasi sekitar 50km dari pusat kota dan memakan waktu perjalanan sekitar 90 menit. Lokasinya sangat terpencil - ya namanya juga puncak gunung, bukan mall - jadinya benar-benar nggak ada yang namanya angkot yang bisa nganterin lo langsung ke depan pintu pos Ijen. Tapi tetap gampang kok buat menuju kesana - bahkan jika lo berpergian solo kaya gw. Selalu ada jalan kok gan buat traveling murah meriah :) *contohnya: jalan kaki dari Banyuwangi ke Ijen, murah kan ~

Asap Kawah Ijen
Puncak Ijen
Show More

Dari Jember

Okay, kita mulai bahasan ini dari kasus gw pribadi. Setelah selesai trip Papuma, gw balik lagi ke Perempatan Ajung via Ojek yang emang udah janjian dari hari sebelumnya. Setelah itu, gw naik bis apapun namanya - yang penting bis itu mengarah ke timur. Ongkos bis ekonomi dari Jember - Banyuwangi biasanya sekitaran 30-50 ribu - menempuh jarak 100km dengan waktu kurang lebih 3 jam. Ambil kursi yang di dekat jendela secara pemandangannya lumayan sadis gan. Yang paling menarik adalah waktu bis lo berjalan di pinggir bukit dan lo benar-benar bisa melihat hamparan luas hutan - bahkan laut - dari puncak bukit tersebut. Keewwl! 

 

Setibanya di Kota Banyuwangi, gw berhenti di Terminal Karangente dan dari sini lo bisa memilih beberapa alternatif untuk nanjak ke Ijen. Yah intinya, mau lo dateng dari Surabaya, dari Bali atau dari daerah manapun juga via kereta (berhenti di Stasiun Karangasem), alternatif-alternatif di bawah tetap lo bisa pilih bergantung selera / budget yang lo punya. Buat gw pribadi sih, paling asoy kalo sewa motor - karena kemana-mana jelas lebih mudah dan murah~

Api Biru Ijen

The Famous Blue Fire under the dark

Rental Motor

Cheapest Alternative

Kalau lo bisa naik motor dan punya SIM, inilah cara termudah dan termurah buat menuju Ijen. Banyak banget tempat rental motor di Banyuwangi dan prosesnya pun mudah. Cukup ketik di Google dan pilih tuh mana yang lo mau. Salah satu yang paling populer menurut gw adalah tripoli, tapi ya enggak musti itu juga sih. Pilih aja mana yang paling dekat dari tempat lo saat itu. Contohnya, kalau lo ke Banyuwangi via kereta api dan berhenti di Stasiun Karangasem, ada tuh rental motor yang letaknya persis di depan stasiun. Abis kontak si empunya motor, lo bisa langsung cabs dengan senyum semriwing~

 

Rental Motor: IDR 65-75k / 24 hours (belum termasuk bensin)

Persyaratan: SIM motor (ya iyalah, tapi kalau lo seorang penyuka tantangan, enggak pake SIM juga gpp sih.. asal nggak pake motor :|) + KTP / Paspor

 

Note:

Kalau lo berpergian berduaan, usahain jangan ambil Motor Mio atau Beat gan. Tarikannya itu lo yang mpot-mpotan karena tanjakannya yang curam. Usahain dapet motor bebek atau Vario. Atau Kawasaki Ninja terbaru juga bisa. Tentunya demi perjalanan yang nyaman karena yang dibonceng enggak musti perlu turun di setiap tanjakan gegara motornya yang mulai ngeden.

 

Begantung skil nawar lo, biasanya angkot apapun itu bisa mengantar lo kemana aja di pusat kota dengan ongkos 15-20rb. Terutama sewaktu lo mau menuju tempat rental motor.

Sebelum berangkat, pastiin lo ambil screenshot dari Google Map mengenai rute lo menuju Ijen. Tentunya ini sebagai jaga-jaga kalau aja sinyal HP lo ilang atau batre HP ilang atau HP lo ilang karena hal yang tidak terduga-duga. Tapi kalo HP lo ilang, di screenshhot pun juga jadi enggak guna sih :|

Nebeng Truk Penambang

Ini adalah cara termurah lainnya kalau lo enggak bisa naik motor. Intinya, lo kudu pergi ke Perempatan Jambu dan jalan sebentar untuk menuju PT. Candi Ngrimbi, dimana truk penambang biasa mangkal.

 

Persyaratan:

Lo harus sampai di Banyuwangi waktu pagi hari karena keberangkatan truk terakhir dari Jambu ke Paltuding adalah jam 11 pagi.

  • Sewa angkot ke Perempatan Jambu / langsung ke PT. Candi Ngrimbi. Kayanya ongkos termurah adalah kalau lo sewa angkot mulai dari Terminal Karangente [IDR 60-100rb / angkot - bergantung skil nawar lo]

  • Dari Jambu, nebeng aja truk nya dengan membayar kurang lebih IDR 10rb / pax.

 

Jadwal Terakhir:

Truk menuju Paltuding (Ijen Basecamp): 7AM & 11 AM

Truck kembali ke Jambu: 1PM & 4PM

Friday = OFF

Penambang Sulfur Ijen

Join the miners and be socialized while using this option

By Ojek

Opsi lainnya kalau lo kelewatan jadwal truk diatas, atau kalau lo emang mau berangkat ke Ijen secara sedikit lebih nyaman, adalah dengan Ojek. Opsi ini jelas lebih mahal mengingat jaraknya yang lumayan. Tapi kalau lo traveling sendirian dan lo sampai di Banyuwangi sekitar siang atau sore hari, lo bakalan menemukan kalau naik ojek bisa jadi salah satu pilihan yang cukup okeh.

 

  • Via angkot, lo bisa mengarah ke Terminal Karangente supaya lo bisa lebih mendekat ke jalur yang mengarah ke Ijen.

  • Ojek dari sana ongkosnya sekitar IDR 150-180rb / trip. Kalau lo nggak bisa menemukan satupun ojek disana, tanya aja ke warung setempat, biasanya kalau harganya cocok, salah satu warga setempat bersedia buat nganterin lo ke Ijen.

  • Atau lo bisa sewa angkot ke Perempatan Jambu dengan ongkos sekitar IDR 50-80rb / angkot lalu melanjutkan perjalanan ke paltuding dengan ojek sekitar IDR 100rb. Opsi ini bisa lebih menghemat biaya terutama kalau lo berjumlah 2-3 orang dan lo emang berniat buat ngojek ke Paltuding.

  • Sama dengan kondisi kedua, kalau lo nggak bisa menemukan ojek di Perempatan Jambu, ketok aja rumah warga sekitar sembari nanya ada nggak yang bisa nganterin lo ke basecamp Ijen.

  • Jangan lupa buat tanya nomer telfon si abang ojek siapa tau lo butuh dia buat jemput lo sewaktu lo mau turun dari Ijen.

By Jeep / Mobil

Tentunya, semuanya bakalan jauh lebih murah dan nyaman kalau lo berpergian dengan grup. Cukup cari rental mobil di Banyuwangi - terserah lo mau include driver atau enggak - setelah itu hajar aja langsung buat jalan ke Ijen dipandu oleh Google Maps. Enggak usah khawatir, jalannya udah bagus dan tanjakannya enggak ngeri-ngeri amat kok. Dan tentunya Banyuwangi adalah salah satu kota termudah kalau lo mau sewa kendaraan. Harga rental sekitaran IDR +/- 400rb (tanpa driver) dan +/- 600rb (dengan driver).

Ijen Miners: Back to the Base